03 Maret 2017
Kuliah Umum bersama Triawan Munaf Kepala BEKRAF
UPH Medan menghadirkan kuliah umum bersama tamu kehormatan Bapak Triawan Munaf Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia.
 
Berikut ini adalah ringkasan pesan dari Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia kepada mahasiswa-mahasiswi UPH Medan pada saat kuliah umum di UPH Medan pada tanggal 4 Maret 2017.
 
Salam Sejahtera kepada seluruh Mahasiswa-mahasiswi Universitas Pelita Harapan Medan.
Mari saya memulai dengan memberi gambaran tentang tekonomi kreatif. Melihat arah perekonomian global saat ini, ekonomi kreatif tidak terpungkiri telah menjadi andalan banyak negara untuk bersaing di pasar dunia. Perputaran nilai ekonomi global sektor industri kreatif saat ini telah mencapai 2,5 kali lipat total belanja dunia terhadap peralatan militer. Di tahun 2011, UNTACD mencatat industri kreatif berada dalam urutan kelima terbesar dalam nilai transaksi ekspor komoditi dunia. Dan di tahun 2012, mengukur bahwa industri hiburan, yang merupakan sektor penting dalam ekonomi kreatif nilainya telah mencapai 2,2 triliun US Dollar. Atau setara dengan 230% total ekspor migas seluruh anggota negara OPEC.
Tidak heran apabila dalam dialog dengan komunitas kreatif pada tanggal 5 Agustrus 2015 di Serpong, Presiden Joko Widodo sendiri menegaskan bahwa era ekonomi kreatif harus menjadi tualng punggung perekonomian Indonesia di masa depan.
Untuk tujuan besar inilah dibentuk Badan Ekonomi Kreatif atau disingkat BEKRAF. Saat ini, dibawah BEKRAF terdapat 16 sektor industri yang perannya terus meningkat bagi pertumbuhan ekonomi nasional, masing-masing : aplikasi dan game developer, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi & video, fotografi, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa dan televisi-radio.
Dalam kurun waktu 2015 ke 2019, di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), BEKFRAF ditargetkan mencapai sasaran sebagai berikut :
1. Pertumbuhan PDB Ekonomi kreatif dari 7,5 % ke 12%
2. Penambahan jumlah tenaga kerja dari 12,1 juta ke 13 juta
3. Kontribusi ekspor/ devisa bruto dari 6,15% ke 10%
Semua sasaran ini menunjukkan ekspektasi yang tinggi untuk sektor ekonomi kreatif dapat berkembang menjadi tulang punggung ekonomi nasional di masa depan.
Kita tahu prestasi menakjubkan yang dicetak oleh negara seperti Inggris, Perancis, Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara lainnya di sektor ini. Ekonomi kreatif sebagai sektor industri yang berbasis pada gagasan dan terobosan, adalah sektor industri yang tidak mungkin akan habis sebagaimana industri energi dan sumber daya alam lainnya. Karenanya ia menjanjikan peran yang sungguh sangat strategis bagi masa depan perekonomian setiap bangsa.
Sebagai bagnsa, kita harus mulai bekerja keras dengan cara-cara yang lebih strategis dan modern untuk menempatkan Indonesia menjadi pelaku utama, bukan penonton; menjadi pemimpin pasar bukan hanya pasar; menjadi pencipta arus bukan tergulung arus perubahan. Karenanya, prioritas investasi pembangunan infrastruktur ekonomi kreatif nasional diletakkan pad apembentukan ekosistem yang diterjemahkan dalam berbagai program ekosistem oleh BEKRAF. Berikut ini adalah beberapa contoh yang telah dilaksanakan oleh BEKRAF : 
1. Bekup, Bekraf for pre-startup untuk menciptakan ekosistem capacity building bagi calon-calon startup nasional,
2. Dekraf atau Dana Ekonomi KReatif, ekosistem model pembiayaan baru yang memberi tempat pada ide sebagai nilai yang dapat divaluasi,
3. Fasilitas Kepemilikan Hak Kekayaan Intelektual yang ditujukan untuk menciptakan ekosistem pilar dari industrialisasi kreativitas,
4. IKKON atau Inovasi dan Kreativitas Kolaborasi Nusantara yang ditujukan untuk menjadi ekosistem capacity building di setiap daerah untuk peningkatan kompetensi dan kualitas produk kreatif.
5. ICINC atau Indonesi Creative Incorporated, strategi pemasaran internasional baru untuk membawa produk, karya atau konten kreatif nasional menjadi pemain utama dunia.
Indonesia adalah sebuah keragaman yang tak tertandingi. Bangsa kita memiliki 250 juta lebih penduduk, 17.500 lebih pulau, 1.300 lebih suku, dan 1200 lebih bahasa. Sebuah keragaman yang merupakan energi besar tak tertandingi oleh bangsa manapun di dunia untuk lahirnya gagasan-gagasan baru. Indonesia adalah island of imagination. INi lah bekal dan sumber daya yang tidak terhingga bagi kita semua untuk mewujudkan proyeksi berbagai lembaga bergengsi dunia yang menyatakan Indonesia akan masuk 7 besar kekuatan ekonomi di dunia tahun 2020 dan 5 besar di tahun 2030.
Para civitas akademika Universitas Pelita Harapan Medan, terutama mahasiswa-mahasiswi  yang akan menjawab tantangan-tantangan bangsa kita di masa depan, meminjam slogan sebuah lembaga studi terpandang di Indonesia, Center for Strategic International Studies atau CSIS bekal akademis yang telah Anda peroleh sampai hari ini, layak menempatkan Anda semua sebagai intelektual yang memiliki nalar ajar terusan budi.
Mari manfaatkan sebaik-baiknya untuk bekerja melahirkan gagasan-gagasan baru yang makin memperkaya keragaman nusantara dan memperkuat peradaban negeri kita tercinta.